“Sungguh
Allah melimpahkan solawat dan para malaikat memohonkan solawat untuk
Nabi SAW, maka wahai orang-orang yang beriman, bacakanlah (mohonkanlah)
solawat untuknya…” Potongan ayat ini pasti dibacakan para khotib pada khutbah bagian kedua.
Karena telah dilimpahi sholawat oleh Allah dan dibacakan sholawat para malaikat, logisnya Nabi SAW sudah turah/berkecukupan
sholawat. Jadi, kitalah yang butuh membacakan sholawat kepada beliau.
Mengapa? Setiap sekali kita membacakan sholawat untuk beliau, Allah
melimpahkan sholawat buat kita minimal sepuluh kali.
Makna sholawat secara umum adalah pernyatan
kasih dan cinta. Setiap orang yang berakal dan berilmu, pastilah
mewajibkan dirinya memperbanyak sholawat Nabi SAW. Mengapa? Tiada kasih
dan cinta yang melebihi kasih dan cinta Nabi SAW kepada umat manusia.
Allah mengabarkan: “…berat terasa bagi (hati) beliau penderitaan kalian, (beliau) sangat ingin kalian (selamat dunia-akherat)…” Wajar
jika Taufik Ismail menuliskan : “Cinta ikhlasmu pada manusia, bagai
cahaya suwarga, dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja…”
Bahkan, kelak ketika neraka telah dinyalakan, ketika para nabi AS lupa
kepada selain dirinya masing-masing karena begitu menakutkannya neraka,
lalu mereka berkata “selamatkan diriku, selamatkan diriku, diriku, Ya Allah”, Beliau SAW justru
memohon; “Diriku saja yang masuk neraka Ya Allah, diriku saja, biar
neraka bagi diriku saja, selamatkan umatku, Ya Robbi, umatku Ya Allah,
umatku Ya Maha Penyelamat, ”
Adakah makhluk ciptaanMu yang lebih mulia dari yang begini ini (Nabi SAW), Ya Robbi?
Sebesar-besar cinta-kasih orang tua kepada
anaknya, takkan pernah lebih besar dari cinta Beliau SAW kepada kita.
Sebesar-besar cinta seseorang kepada orang lainnya, takkan pernah lebih
besar dari cinta Beliau SAW kepada kita.
Sejak zaman para sahabat RA hingga kapanpun,
orang-orang saleh senantiasa menitikkan airmata rindu-cinta bila
teringat jejak-langkah Beliau SAW. Demikianlah, maka Al Maghfurlah Al ‘Alamah Al ‘Arif Billah
KH Ahmad Zaini Ghani Martapura (Tuan Guru Ijai) bila membaca Simtud
Duror beserta bacaan sholawatnya, suara merdu-rindu penuh tetesan
airmata beliau mengharu-biru ruh ratusan ribu santri beliau yang takkan
pernah bosan menghadiri majelis tiap malam Senin ini.
Begitu pentingnya membaca sholawat nabi bagi
manusia, hingga Sayyidina Syech Zainal ‘Abidin mengatakan: ciri ahlus
sunnah wal jama’ah ialah banyak membaca sholawat nabi. Syech Zainuddin
Al Malibari dalam kitab Irsyadul ‘Ibad malah menganjurkan: kalau bisa,
sehari baca sholawat seribu kali, atau tujuhratus kali, atau paling
sedikit tigaratus kali.
Di kalangan pesantren tradisional khususnya,
membaca sholawat nabi dalam berbagai versi dan cara, adalah bagian
terpenting setelah membaca Al Qur’an. Terlebih lagi pada malam/hari
Jum’at. Kitab kumpulan doa dan sholawat Dalailul Khoirot karya Syech
Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli seolah menjadi bacaan wajib
kedua setelah Al Qur’an. Tentu, mereka tahu besarnya pahala di akherat
dan dahsyatnya barokah di dunia karena membaca sholawat nabi.
Gus Mus (KH A Mustofa Bisri Rembang) berkali-kali mengatakan: “Jika tiap bibir kita sedang menganggur komat-kamit/mengucapkan “Shallaahu ‘ala Muhammad (Ya
Allah, limpahkan solawat untuk Nabi Muhammad SAW) terus-menerus
sedikitnya setahun, kok tidak sukses-bahagia-tentram-sentosa, datangi
aku,ludahi mukaku dan caci-makilah diriku!”
kutipan dari :http://zainiahmad.multiply.com


